Inilah 5 Gejala Anda Mengalami Hipopituitarisme!

Hipopituitarisme adalah gangguan yang terjadi pada kelenjar pituitari, di mana kelenjar ini tidak dapat memproduksi berbagai hormon, seperti hormon pertumbuhan, reproduksi, dan metabolisme. Kelenjar pituitari merupakan kelenjar kecil seperti kacang yang terletak di bagian bawah otak. Meskipun bentuknya kecil, kelenjar ini dijuluki sebagai Master of Gland, karena keberadaannya sebagai pusat pengendali fungsi atas kelenjar lainnya di dalam tubuh.

Apabila kelenjar pituitari rusak, maka sekresi hormon akan terganggu. Hampir setiap hormon yang bekerja di tubuh disekresikan oleh kelenjar yang aktivitasnya dipengaruhi oleh kelenjar pituitari, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika seseorang mengalami hipopituitarisme, maka tubuhnya akan mengalami penyakit, seperti akromegali dan Cushing’s syndrome. Umumnya, orang yang mengalami hipopituitarisme akan bergantung dengan obat seumur hidupnya.

Gejala yang akan dialami jika seseorang mengalami hipopituitarisme.

Gejala yang dirasakan oleh penderita hipopituitarisme adalah kelelahan, susah buang air besar, sakit kepala, penglihatan kabur, dan kekakuan di area leher. Hal ini juga bergantung pada sistem organ yang dipengaruhi. Tanda-tanda lain yang dapat dirasakan oleh penderita hipopituitarisme adalah sebagai berikut. 

  • Kelelahan.

Seseorang dengan hipopituitarisme cenderung mudah mengalami kelelahan. Hal ini karena menurunnya produksi hormon adrenokortikotropik (ACTH), sehingga kelenjar adrenal menjadi tidak aktif. Alhasil, tubuh akan terasa lemas dan nafsu makan berkurang, yang akhirnya memengaruhi berat badan. Selain itu, berkurangnya kadar ACTH di tubuh juga dapat memicu berbagai penyakit, seperti tekanan darah rendah, kadar gula darah (glukosa) rendah, dan mudah stres. Kekurangan ACTH adalah gangguan hormon hipofisis yang paling serius, karena dapat menyebabkan kematian bagi penderitanya.

  • Gangguan pada sistem reproduksi.

Kelenjar pituitari juga bertindak dalam sekresi hormon-hormon gonadotropin yang berperan penting terhadap sistem reproduksi, yaitu luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). Kedua hormon ini akan membuat organ testis pada pria mengeluarkan hormon testosteron. Adapun pada wanita, bagian ovarium akan mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Apabila produksi hormon tersebut terganggu, dapat menyebabkan gagal puber pada anak, amenorea (tidak mengalami menstruasi), berkurangnya produksi sperma pada pria, menurunnya gairah seksual, serta kemandulan.

  • Anemia.

Salah satu gejala yang juga terjadi pada penderita hipopituitarisme adalah anemia. Hal ini karena berkurangnya produksi hormon eritropoetin yang mungkin berkaitan dengan menurunnya suplai oksigen di jaringan perifer. Hormon eritropoetin adalah hormon yang menstimulasi pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). Apabila sekresi hormon ini terganggu, dapat menghambat pembentukan sel-sel darah merah di tulang belakang. Oleh sebab itu, kondisi hipopituitarisme dapat menyebabkan seseorang mengalami anemia.

  • Gagal tumbuh pada anak.

Jika seorang anak lahir dengan hipopituitarisme, maka berisiko tinggi mengalami gagal tumbuh. Hal ini karena terganggunya produksi hormon pertumbuhan atau growth hormone (GH). Anak akan mengalami masa pertumbuhan yang buruk, tinggi badan sulit bertambah, serta penumpukan lemak di area pinggang dan wajah. Lain halnya pada orang dewasa yang mengalami hipopituitarisme, cenderung tidak memengaruhi tinggi badan, karena pertumbuhan tulang sudah selesai.

  • Produksi ASI tidak lancar.

Wanita yang memiliki penyakit hipopituitarisme, maka produksi ASI bisa jadi sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini berkaitan dengan rendahnya kadar prolaktin di tubuh yang berperan dalam produksi ASI saat wanita menyusui. Selain itu, dampak lain dari kekurangan hormon ini adalah tidak adanya pertumbuhan rambut di bagian ketiak dan kemaluan.

Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa dari gejala di atas, ada baiknya segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Dokter akan melakukan beberapa tindakan screening untuk memastikan apakah Anda mengalami hipopituitarisme atau tidak. Beberapa gejala mungkin menunjukkan adanya indikasi perdarahan pada kelenjar pituitari, sehingga dokter akan melakukan operasi untuk menghentikan perdarahan dan mencegah komplikasi yang lebih parah. Selalu konsultasikan ke dokter terkait penanganan yang tepat untuk mengatasi hipopituitarisme.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*