Kondisi Kesehatan yang Bisa Didiagnosis Melalui Elektromiografi

Elektromiografi dilakukan untuk memeriksa kondisi saraf motorik.

Ada banyak kondisi kesehatan yang menyerang otot dan sistem saraf manusia. Kondisi tersebut jika terjadi akan memengaruhi ruang gerak atau mobilitas seseorang. Hampir semuanya kondisi yang berkaitan dengan otot dan saraf bisa didiagnosa dengan elektromiografi.

Elektromiografi (EMG) merupakan sebuah prosedur diagnostik untuk memeriksa kondisi otot dan sel-sel saraf yang mengontrolnya. Berkaitan dengan itu, berikut ini macam kondisi kesehatan yang dapat diketahui lebih lengkap melalui prosedur EMG:

  1. Distrofi

Distrofi otot adalah kumpulan  penyakit yang melibatkan dan menyebabkan kelemahan progresif dan hilangnya massa otot. Yang terjadi pada distrofi ini adalah gen yang abnormal mengganggu produksi protein untuk membentuk otot yang sehat.

Ada banyak kondisi kesehatan yang masuk dalam kelompok distrofi otot. Gejalanya dapat mulai terlihat saat seseorang masih usia kanak-kanak. Meski dapat menyerang siapa saja, tetapi penyakit yang dapat dideteksi oleh prosedur elektromiografi ini lebih sering diderita oleh laki-laki.

Tanda dan gejala spesifik dimulai pada usia yang berbeda dan pada kelompok otot yang berbeda, tergantung pada jenis distrofi otot. Beberapa jenis distrofi otot dapat dipahami melalui gambaran spesifik yang terlihat dari gejala-gejala yang dialami. Seperti:

  • Myotonik: Jenis ini ditandai dengan ketidakmampuan mengendurkan otot setelah kontraksi. Otot wajah dan leher biasanya yang pertama kali terserang distrofi jenis ini. Penderita biasanya memiliki wajah yang panjang dan kurus; kelopak mata terkulai; dan leher seperti angsa.
  • Facioscapulohumeral (FSHD): Kelemahan otot biasanya dimulai di wajah, pinggul, dan bahu. Salah satu kondisi yang bisa menjadi penanda dari jenis ini adalah kelainan di bahu ketika lengan direntangkan. Umumnya kondisi ini terjadi pada usia remaja, tetapi tak menutup kemungkinan bisa terjadi pula pada masa kanak-kanak atau hingga usia 50 tahun.
  • Congenital: Distrofi jenis ini merupakan kondisi yang terjadi lantaran “bawaan lahir”. Gejalanya bisa terlihat bahkan sejak bayi dilahirkan hingga ia berusia 2 tahun. Beberapa kondisi berkembang perlahan dan hanya menyebabkan cacat ringan, sementara yang lain berkembang pesat dan bisa menyebabkan gangguan parah.
  • Limb-girdle: Jenis ini menyerang bagian otot pinggul dan bahu. Orang-orang dengan distrofi otot ini akan mengalami kesulitan saat mengangkat bagian kaki depan sehingga sering tersandung. Gejala mulai muncul pada masa kanak-kanak atau remaja.

Tidak ada obat khusus untuk mengatasi distrofi otot. Oleh karenanya, elektromiografi dibutuhkan untuk mendapatkan diagnosis yang lengkap dan menyeluruh guna memberikan penanganan yang tepat, baik itu terapi maupun mengelola gejala agar dapat memperlambat dampak yang bisa terjadi.

  1. Polymyositis

Polymyositis adalah penyakit radang tidak-biasa yang menyebabkan kelemahan otot di kedua sisi tubuh Anda. Orang dengan polymyositis akan sulit untuk naik tangga, naik dari posisi duduk, mengangkat benda.

Kelemahan otot lantaran polymyositis ini melibatkan otot-otot yang paling dekat dengan batang tubuh, seperti yang ada di pinggul, paha, bahu, lengan atas, dan leher. Kelemahan memengaruhi sisi kiri dan kanan tubuh Anda dan cenderung akan terus memburuk secara perlahan.

Polymyositis umumnya menyerang orang dewasa pada usia 30-an, 40-an, atau 50-an. Uniknya, kondisi ini lebih umum terjadi kepada orang kulit hitam daripada pada orang kulit putih. Wanita pun lebih sering terkena daripada pria. Tanda dan gejala biasanya berkembang secara bertahap, selama beberapa minggu atau bulan.

Meskipun tidak ada obat khusus untuk polymyositis, perawatan, mulai dari obat-obatan hingga terapi fisik, dapat meningkatkan kembali kekuatan dan fungsi otot Anda. Namun, dokter butuh diagnosis yang tepat sebelum bisa memberikan penanganan kepada pasien.

Untuk mendapatkan gambaran kondisi terkait polymyositis, tenaga medis biasa menggunakan prosedur elektromiografi. Akan tetapi diagnosis tidak terbatas pada prosedur itu, dokter bisa pula melakukan tes darah, MRI, hingga biopsi otot.

  1. Myasthenia Gravis

Myasthenia gravis merupakan kondisi kelemahan dan keletihan otot-otot yang terjadi lantaran gagalnya “komunikasi” antara saraf dan otot. Kelemahan otot yang disebabkan oleh myasthenia gravis memburuk saat otot kita terus menggunakan bagian otot yang terserang. 

Sebab gejala kondisi ini biasanya akan membaik dengan istirahat, kelemahan otot bisa datang dan pergi. Namun, gejalanya cenderung berkembang dari waktu ke waktu, biasanya mencapai yang terburuk dalam beberapa tahun setelah timbulnya penyakit.

Tidak ada obat untuk myasthenia gravis, tetapi perawatan dapat membantu meringankan tanda dan gejala, seperti kelemahan otot lengan atau kaki, penglihatan ganda, kelopak mata terkulai, dan kesulitan berbicara, mengunyah, menelan dan bernapas. Meskipun penyakit kondisi ini dapat mempengaruhi orang-orang dari segala usia, myasthenia gravis biasanya menyerang wanita di bawah 40 tahun dan pada pria di atas 60 tahun.

***

Itulah tiga kondisi kesehatan atau penyakit otot dan saraf yang dapat diketahui melalui prosedur elektromiografi. Prosedur ini bisa dilakukan di rumah sakit setelah mendapat rekomendasi oleh dokter. Jika memang diperlukan, jangan ragu ketika dokter menyarankan Anda untuk melakukan prosedur tersebut.

Read More

Manfaat dan Risiko Kateterisasi Jantung

Kateterisasi jantung adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk mendiagnosa dan merawat kondisi-kondisi kardiovaskular tertentu. Saat prosedur kateterisasi jantung berlangsung, tabung tipis panjang bernama kateter akan dimasukkan ke dalam arteri atau vena di pangkal paha, leher, dan lengan untuk kemudian disambungkan melalui pembuluh darah ke jantung. Menggunakan alat keteter tersebut, dokter kemudian akan dapat melakukan pemeriksaan diagnostic sebagai bagian dari kateterisasi jantung. Beberapa perawatan penyakit jantung, seperti angiplasti koroner dan stenting koroner, juga dilakukan menggunakan kateterisasi jantung. Biasanya, Anda akan sadar saat proses kateterisasi jantung berlangsung. Namun, dokter akan memberikan obat-obatan tertentu untuk membantu Anda merasa lebih relaks dan nyaman. Waktu pemulihan setelah prosedur kateterisasi jantung dilakukan relatif cepat. Selain itu, risiko terjadinya komplikasi setelah prosedur berlangsung sangatlah kecil. Artikel ini akan membahas seluk beluk mengenai kateterisasi jantung dengan lebih jelas.

Mengapa kateterisasi jantung perlu dilakukan?

Kateterisasi jantung dilakukan untuk memeriksa apakah seseorang memiliki gangguan kesehatan jantung. Selain itu, tindakan medis ini juga dapat dilakukan sebagai bagian dari prosedur perawatan penyakit jantung yang telah diketahui. Apabila Anda akan mendapatkan kateterisasi jantung sebagai bentuk pemeriksaan penyakit jantung, dokter dapat melakukan hal-hal berikut ini seperti:

  • Menemukan penyempitan atau penyumbatan di pembuluh darah yang dapat menyebabkan rasa sakit pada dada (angiogram)
  • Mengukur tekanan dan kadar oksigen di beberapa bagian jantung (hemodynamic assessment)
  • Memeriksa fungsi pemompaan jantung (ventriculogram kanan atau kiri)
  • Mengambil sampel atau contoh jaringan yang ada di jantung (biopsy)
  • Melakukan diagnosa cacat jantung yang muncul saat lahir (cacat jantung bawaan)
  • Mencari masalah yang ada pada katup jantung

Kateterisasi jantung juga digunakan sebagai salah satu bentuk prosedur untuk merawat penyakit jantung. Prrosedur yang dimaksud adalah:

  • Memperlebar arteri yang sempit (angioplasty) dengan atau tanpa penempatan stent
  • Menutup lubang yang ada pada jantung atau memperbaiki cacat jantung bawaan apapun
  • Membuka katup jantung yang menyempit (balloon valbuplasty)
  • Merawat irama jantung yang tidak teratur menggunakan ablasi
  • Menutup sebagian jantung untuk mencegah penggumpalan darah

Manfaat dan risiko prosedur kateterisasi jantung

Kateterisasi jantung dapat membantu dokter untuk mendiagnosa dan melakukan perawatan pada masalah jantung tertentu yang dapat menyebabkan gangguan lebih parah seperti stroke atau serangan jantung. Ada kemungkinan Anda terhindar dari serangan jantung atau menghentikan serangan jantung di kemudian hari apabila dokter mampu memperbaiki masalah kesehatan jantung yang ditemukan saat prosedur kateterisasi jantung dilakukan.

Namun, perlu diketahui bahwa prosedur apapun yang berhubungan dengan kondisi jantung seseorang memiliki risiko tertentu yang harus diwaspadai. Kateterisasi jantung dianggap memiliki risiko yang relatif rendah, dan sangat jarang ditemukan kasus di mana orang-orang memiliki efek samping akibat prosedur ini. Namun, risiko komplikasi, meskipun sangat langka dan jarang terjadi, akan lebih tinggi terutama apabila Anda menderita penyakit diabetes dan ginjal, atau Anda telah berumur lebih dari 75 tahun.

Beberapa risiko yang sering dihubungkan dengan kateterisasi jantung seperti reaksi alergi terhadap bahan atau obat-obatan yang digunakan selama prosedur; pendarahan, infeksi, dan lebam pada daerah di mana kateter dimasukkan; penggumpalan darah, yang mana dapat memicu serangan jantung, stroke, dan gangguan kesehatan serius lain; kerusakan pada daerah arteri di mana kateter dimasukkan; irama jantung yang tidak teratur (arrhythmia); kerusakan ginjal yang disebabkan oleh bahan kontras; tekanan darah rendah; dan juga jaringan jantung yang sobek.

Read More

Mengenal Gagal GInjal, Penyakit Yang Perlu Cuci Darah

Mungkin Anda sudah sering mendengar penyakit gagal ginjal dan perlunya cuci darah saat memiliki penyakit ini. Penyakit ini mengganggu fungsi dan kesehatan ginjal. Seperti yang kita tahu, tubuh manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak pada bagian bawah punggung, masing-masing berada di setiap sisi tulang punggung. Ginjal ini bertugas untuk menyaring darah dan membersihkan racun dari dalam tubuh. Ginjal akan mengirim racun ke kandung kemih, yang kemudian tubuh akan membersihkannya saat Anda buang air kecil. Gagal ginjal terjadi saat kedua ginjal Anda kehilangan kemampuan dalam menyaring kotoran yang ada di dalam darah. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan dan fungsi ginjal, misalnya saja karena paparan racun, mulai dari polusi lingkungan hingga obat-obatan tertentu. Selain itu, penyakit akut dan kronis, dehidrasi parah, dan trauma ginjal juga penyebab lain gagal ginjal. Apabila tubuh mengalami gagal ginjal, tubuh Anda akan dipenuhi dengan racun karena ginjal tidak dapat bekerja sebagai mana mestinya. Dan kondisi ini dapat mengancam nyawa apabila tidak diobati.

Gejala dan penyebab gagal ginjal

Biasanya seseorang yang memiliki penyakit gagal ginjal akan menunjukkan tanda-tanda atau gejala tertentu. Namun, tidak jarang juga gejala tersebut tidak muncul atau tampak. Beberapa gejala yang mungkin terjadi seperti berkurangnya jumlah urin, pembengkakan pada bagian kaki dan pergelangan kaki akibat terimpannya cairan yang disebabkan kegagalan ginjal untuk membuang limbah air, sesak napas yang tidak dapat dijelaskan, lelah atau mengantuk, rasa pusing, bingung, rasa sakit pada dada dan terasa tertekan, kejang, serta koma. Karena ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik, agar tubuh dapat menyingkirkan racun dan kotoran, prosedur cuci darah atau hemodialisa dilakukan untuk mengganti fungsi kerja ginjal.

Penyebab gagal ginjal

Gagal ginjal dapat disebabkan karena beberapa kondisi atau penyebab. Penyebab tersebut biasanya juga menentukan tipe dari gagal ginjal. Orang-orang yang paling memiliki risiko gagal ginjal biasanya memiliki satu atau lebih dari penyebab berikut ini seperti:

  • Hilangnya aliran darah yang mengalir ke ginjal

Berhentinya aliran darah secara tiba-tiba ke ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal. Beberapa kondisi yang menyebabkan hilangnya aliran daarah ke ginjal termasuk serangan jantung, penyakit jantung, luka pada hati atau gagal hati, dehidrasi, luka bakar yang parah, reaksi alergi, dan infeksi serius seperti sepsis. Tekanan darah yang tinggi dan obat-obatan anti-inflamasi juga dapat membatasi aliran darah.

  • Masalah pembuangan urin

Saat tubuh tidak mampu membuang urin, racun akan menumpuk dan memenuhi ginjal. Beberapa tipe kanker dapat menghambat saluran urin, misalnya kanker prostat (yang biasa terjadi pada pria), kanker usus besar, kanker serviks, dan kanker  kandung kemih. Bebrapa kondisi lain yang dapat mengganggu baung air kecil dan meningkatkan risiko gagal ginjal seperti batu ginjal, prostat yang membesar, adanya gumpalan darah pada saluran kemih, dan kerusakan saraf yang mengatur kandung kemih.

  • Penyebab lain

Penyebab lain yang dapat meningkatkan risiko gagal ginjal misalnya adanya gumpalan darah di sekitar ginjal, infeksi, obat-obatan serta alkohol, penyakit lupus, penggunaan antibiotik, diabetes tidak terkontrol, dan lain-lain

Ada beberapa cara untuk mengurangi risiko gagal ginjal. Misalnya saja, apabila Anda minum obat-obatan OTC, pastikan selalu mengikuti resep yang diberikan. Mengonsumsi obat dalam dosis yang besar dapat meningkatkan kadar racun dalam waktu yang cepat. Untuk pengobatan, Anda bisa mendapatkan perawatan cuci darah atau hemodialisa dan transplantasi ginjal.

Read More