5 Jenis Operasi Gusi untuk Obati Kerusakan Gusi

Ketika mengalami penyakit atau kerusakan pada gusi, dokter mungkin akan melakukan berbagai upaya untuk mengobati Anda, salah satunya dengan menjalankan operasi gusi. Operasi ini hanya akan dilakukan bagi penderita penyakit gusi yang parah.

Pengobatan dengan operasi gusi bermanfaat untuk mengangkat bakteri dari bawah gusi, membentuk kembali tulang, dan mencegah kerusakan gusi di masa depan.

Jenis-jenis operasi gusi

Operasi gusi akan dilakukan oleh dokter spesialis bedah mulut. Jenis operasi yang dilakukan berbeda-beda, tergantung pada kondisi kelainan gusi yang diderita pasien. Sebelum memilih jenis operasi, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan gigit dan mulut secara mendalam terlebih dahulu.

Jenis-jenis operasi gusi terdiri atas:

  • Operasi flap

Operasi flap adalah operasi untuk mengurangi kantong gusi. Prosedur operasi ini dijalankan dengan pengangkatan gusi dan karang gigi. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin juga akan menghaluskan permukaan gusi yang tidak rata untuk mencegah bakteri bersembunyi di dalamnya.

Dengan mengurangi area bagi bakteri untuk bersembunyi, resiko untuk terkena penyakit gusi pun akan menurun. Terkadang, prosedur ini juga melibatkan pembentukan kembali tulang di sekitar gigi untuk menyesuaikan posisi gigi dengan gusi.

  • Cangkok jaringan lunak

Prosedur operasi cangkok jaringan lunak umumnya digunakan untuk mengobati kelainan gusi berupa resesi gingiva atau gusi turun. Kondisi ini terjadi akibat hilangnya jaringan gusi yang ada sehingga memerlukan pencangkokan jaringan lunak untuk menghindari masalah lebih lanjut.

Pada prosedur ini, dokter biasanya akan mengambil jaringan lunak dari bagian tubuh lain untuk kemudian dicangkokan ke area gusi yang bermasalah. Biasanya, jaringan lunak yang diambil berasal dari atap mulut.  

  • Regenerasi jaringan gusi

Regenerasi jaringan gusi merupakan metode operasi gusi yang dilakukan apabila tulang penopang gigi mengalami kehancuran. Dengan regenerasi jaringan, tulang dan jaringan pada gusi akan dirangsang untuk melakukan pertumbuhan kembali.

Metode ini dijalankan dengan menempatkan material kecil di antara tulang dan jaringan gusi. Material tersebut akan mencegah gusi untuk tumbuh ke area yang seharusnya ditempati oleh tulang.

Tulang dan jaringan gusi baru yang ditumbuhkan akan bermanfaat guna menopang gigi dengan lebih baik.

  • Cangkok tulang

Operasi gusi dengan metode pencangkokan juga bisa dilakukan dengan cangkok tulang. Cangkok tulang dilakukan dengan tujuan untuk menahan gigi tetap pada tempatnya dan membantu gigi untuk tumbuh kembali.

Cangkok tulang umumnya dilakukan apabila kondisi kelainan gusi telah merusak tulang di sekitar akar gigi. Tulang yang rusak akan diganti dengan tulang baru yang diambil dari bagian kecil tulang Anda.

Dalam beberapa kasus, cangkok tulang juga dikombinasikan dengan upaya operasi gusi lainnya.

  • Operasi tulang

Operasi tulang merupakan metode yang dilakukan sebagai langkah operasi lanjutan setelah operasi flap. Biasanya, operasi ini baru akan dijalankan apabila permukaan gusi masih tidak teratur dan memerlukan perawatan tambahan.

Penyakit gusi terkadang menimbulkan kerusakan tulang, membuat tulang yang seharusnya menopang gigi menjadi keropos. Pada saat inilah operasi tulang perlu dilakukan untuk membentuk kembali tulang di sekitar gigi, mengurangi area tersembunyi yang seringkali menjadi sarang bakteri.

Sebelum melakukan operasi, dokter akan lebih dulu membersihkan gusi untuk mengangkat karang gigi serta bakteri di sekitar gusi. Prosedur ini dikenal dengan nama deep scaling atau scaling gigi.

Bagi Anda yang akan menjalankan prosedur operasi gusi, lakukan persiapan yang matang sesuai dengan anjuran dari dokter. Biasanya, pasien diharuskan untuk berhenti mengonsumsi obat-obatan tertentu beberapa minggu sebelum operasi dilakukan.

Read More

Selain Vaksin Hib, Ini Deretan Imunisasi Wajib bagi Anak

Di Indonesia, imunisasi dengan memberikan vaksin pada anak diwajibkan oleh pemerintah. Tujuannya jelas, yakni mempersiapkan kondisi tubuh anak agar terhindar dari berbagai jenis penyakit berbahaya. Setidaknya ada 5 jenis vaksin wajib yang harus didapat anak sebelum mereka menginjak usia satu tahun. Salah satu di antaranya adalah vaksin Hib.

Imunisasi dengan memasukkan vaksin ke tubuh anak berfungsi untuk membentuk antibodi guna memperkuat kerja sistem imun dalam menghadapi patogen atau kuman, bakteri, jamur, virus, dan lainnya. Imunisasi dilakukan dengan menyuntikkan virus atau bakteri penyebab “penyakit terget” yang sudah dilemahkan.

Tubuh anak kemudian mendeteksi kedatangannya sebagai “ancaman” dan memicu sistem imun untuk memproduksi antibodi yang nantinya bertugas untuk melawan penyakit. Jadi, jika suatu saat anak terserang penyakit tersebut, tubuhnya sudah memiliki “pasukan” antibodi yang mampu mengenali dan melawan serangan virus atau bakteri.

Ada tiga keuntungan bagi anak yang telah mendapat serangkaian imunisasi, pertama karena imunisasi sangat efektif untuk mencegah penularan penyakit; kedua, sekali diimunisasi maka setidaknya tubuh anak telah terlindungi dengan baik dari ancaman penyakit tersebut; ketiga, anak justru berisiko lebih tinggi untuk terkena penyakit dan mengalami gejala yang lebih parah jika tidak diimunisasi.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 12 Tahun 2017, ada beberapa imunisasi wajib yang harus diberikan kepada bayi sebelum berusia 1 tahun. Imunisasi ini bisanya diberikan gratis oleh pelayanan kesehatan di bawah naungan pemerintah, seperti posyandu, puskesmas, maupun rumah sakit daerah. Nah, selain vaksin Hib, apa saja sih jenis imunisasi wajib lain yang ditetapkan pemerintah? Berikut ulasannya:

  1. Vaksin Hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi menular yang menyerang hati (liver) dan bisa berujung pada kanker hati atau sirosis. Vaksin hepatitis B harus didapat segera setelah bayi baru lahir, paling lambat 12 jam setelah kelahiran. Namun, bayi harus mendapatkan suntikan vitamin K1 dulu 30 menit sebelum divaksin.

Selain untuk melindungi bayi dari penularan hepatitis B dari orang lain di masa depannya, vaksin ini sekaligus berfungsi mencegah risiko penularan dari ibu ke anak saat persalinan. Sebab kenyataannya cukup banyak ibu yang tidak menyadari dirinya terkena hepatitis B karena tidak pernah merasakan gejala apa pun.

Setelah jadwal vaksin yang pertama, imunisasi hepatitis B juga harus diulang dua kali lagi. Satu saat bayi telah berumur 1 bulan dan terakhir saat usianya 6 bulan. Pengulangan imunisasi ini bertujuan untuk “memperbarui” jangka waktu perlindungannya dan memperkuat sistem imun anak.

  • Vaksin Polio

Polio adalah infeksi virus menular yang menyerang sistem saraf pusat di otak. Polio menyebabkan badan pengidapnya lumpuh sehingga juga umum dikenal sebagai penyakit lumpuh layu. Pada kasus yang lebih parah, polio sampai mengganggu pernapasan dan proses menelan sehingga dapat berakibat fatal bila tidak diobati.

Itu kenapa bayi perlu mendapatkan vaksin polio secepatnya sebelum berusia genap 1 tahun. Vaksin polio terdiri dari 4 rangkaian yang harus dilengkapi semuanya. Vaksin yang pertama diberikan segera setelah baru lahir, yang kedua pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan terakhir saat menginjak 6 bulan.

Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan imunisasi polio dilanjutkan saat bayi berusia sekitar 18-24 bulan.

  • Vaksin BCG

Vaksin BCG adalah imunisasi untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC). TBC adalah penyakit menular berbahaya yang menyerang saluran pernapasan dan mungkin menyebar ke bagian tubuh lainnya jika tidak segera diobati.

Berbeda dengan beberapa jenis imunisasi di atas, vaksin BCG cukup diberikan 1 kali sebelum bayi berusia 3 bulan. Efektivitasnya akan paling optimal jika diberikan saat bayi berusia 2 bulan. Vaksin BCG bekerja menyerang bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menginfeksi paru-paru dan selaput otak.

  • Vaksin Campak

Campak (rubeola) adalah infeksi menular yang cukup umum terjadi pada usia anak-anak. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan dan kemudian menginfeksi seluruh tubuh.

Nah, imunisasi dapat membantu menurunkan risiko buah hati Anda tertular penyakit ini. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit campak berat yang dapat menyebabkan pneumonia (radang paru), diare, dan bahkan bisa menyerang otak.

Vaksin campak diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat anak berusia 9 bulan dan 24 bulan. Namun, vaksin campak kedua pada usia 24 bulan tidak perlu lagi diberikan jika anak sudah mendapatkan vaksin MMR pada usia 15 bulan.

Sebelum program imunisasi dilaksanakan secara global, campak adalah salah satu penyakit endemik penyebab kematian anak terbanyak setiap tahun di dunia.

  • Vaksin Pentavalen (DPT-HB-HiB)

Nah, vaksin Hib masuk ke dalam rangkaian imunisasi ini. Vaksin Hib diberikan berbarengan bersama vaksin DPT dan vaksin HB. Kombinasi itu disebut vaksin pentavalen. Vaksin ini diberikan untuk mencegah 6 penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, hepatitis B, pneumonia, dan meningitis (radang otak).

Jadwal pemberian vaksin ini sebanyak 4 kali, yaitu pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan 18 bulan. Jika tidak dicegah sejak dini, beragam penyakit ini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius pada anak di masa depannya.

Vaksin HiB (haemophilus influenza tipe B) adalah jenis vaksin yang berfungsi untuk mencegah infeksi terhadap bakteri Haemophilus influenzae type b (Hib). Dalam perjalanannya, bakteri ini bisa menyebabkan pneumonia dan meningitis di kemudian hari.

Read More

Apa Itu Intubasi Endotrakeal dan Kenapa Harus Dilakukan?

Pernahkah Anda mendengar sebuah tindakan medis yang bernama intubasi endotrakeal? Tindakan medis ini merupakan sebuah prosedur darurat yang biasanya diberikan pada orang-orang yang hilang kesadaran atau mereka yang tidak dapat atau kesulitan bernapas. Intubasi endotrakeal menjaga agar saluran udara tetap terbuka sehingga mencegah pasien kekurangan napas. Dalam prosedur intubasi endotrakeal, biasanya pasien akan diberikan anestesi. Kemudian, sebuah tabung/pipa plastik fleksibel dimasukkan ke dalam batang tenggorok melalui mulut untuk membantu ia bernapas.

Mengenal apa itu trachea

Batang tenggorok, atau dalam dunia medis juga dikenal dengan istilah trachea, merupakan sebuah pipa yang membawa oksigen ke dalam paru-paru. Ukuran pipa pernapasan yang digunakan disesuaikan dengan usia dan ukuran tenggorokan. Dalam tubuh manusia, yang disebut batang tenggorok adalah bagian di bawah laring, atau kotak suara,yang memanjang hingga bagian di belakang tulang dada atau sternum. Batang tenggorok tersebut kemudian bercabang menjadi 2 tabung yang lebih kecil, yang disebut bronkus utama kanan dan kiri. Masing-masing tabung berhubungan dengan masing-masing paru-paru. Bronkus kemudian akan terus bercabang menjadi jalan udara yang lebih kecil di dalam paru-paru. 

Batang tenggorok Anda terbuat dari tulang rawan, otot, dan jaringan ikat yang kuat. Lapisannya terbuat dari jaringan halus. Setiap kali Anda menarik napas, batang tenggorok akan sedikit menjadi lebih lebar dan panjang, yang kemudian akan kembali ke ukuran asli (saat relaks) saat Anda menghembuskan napas. Anda dapat mengalami kesulitan bernapas atau bahkan sama sekali tidak dapat bernapas apabila saluran udara tersumbat atau rusak. Dalam kasus ini, intubasi endotrakeal sangat dibutuhkan.

Mengapa intubasi endotrakeal perlu dilakukan?

Anda mungkin membutuhkan prosedur ini untuk beberapa alasan, seperti:

  • Untuk membuka saluran udara sehingga Anda dapat menerima anestesi, obat-obatan, dan oksigen
  • Untuk melindungi paru-paru
  • Anda sudah berhenti bernapas atau memiliki kesulitan saat bernapas
  • Anda membutuhkan bantuan mesin untuk bernapas
  • Anda memiliki cidera kepala sehingga tidak dapat bernapas dengan sendirinya
  • Anda perlu dibius dalam waktu yang cukup lama agar bisa sembuh dari cidera atau penyakit yang serius

Intubasi endotrakeal dapat menjaga saluran udara Anda tetap terbuka. Hal ini dapat membuat oksigen untuk dapat masuk atau keluar dengan bebas dari paru-paru Anda saat bernapas.

Bagaimana proses intubasi endotrakeal dilakukan?

Intubasi endotrakeal biasanya dilakukan di rumah sakit, di mana Anda akan menerima anestesi. Dalam kasus kedaruratan, paramedis yang berada di lokasi darurat dapat melakukan intubasi endotrakeal. Setelah Anda dibius, ahli anestesi akan membuka mulut Anda dan memasukan sebuah alat kecil yang disebut laryngoscope. Alat ini digunakan untuk melihat bagian dalam laring, atau kotak suara. Setelah laring ditemukan, sebuah pipa plastik yang fleksibel akan dimasukkan melalui mulut menuju bagian bawah batang tenggorokan. Ahli anestesi kemudian akan mendengarkan pernapasan Anda melalui stethoscope untuk memastikan bahwa pipa sudah berada di tempat yang tepat. Setelah Anda tidak membutunkan bantuan untuk bernapas, pipa akan dilepas. Prosedur intubasi endotrakeal akan sedikit berbeda apabila Anda sedang mendapatkan prosedur operasi atau berada dalam perawatan intensif. Dalam kasus ini, pipa akan disambungkan ke ventilator, atau mesin pernapasan, tepat setelah pipa berada di lokasi yang diharapkan. Dalam beberapa kasus tertentu, pipa dapat disambungkan ke sebuah kantong untuk sementara waktu. Ahli anestesi kemudian akan menggunakan kantong tersebut untuk memompa udara ke dalam paru-paru.

Read More

Manfaat dan Risiko Kateterisasi Jantung

Kateterisasi jantung adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk mendiagnosa dan merawat kondisi-kondisi kardiovaskular tertentu. Saat prosedur kateterisasi jantung berlangsung, tabung tipis panjang bernama kateter akan dimasukkan ke dalam arteri atau vena di pangkal paha, leher, dan lengan untuk kemudian disambungkan melalui pembuluh darah ke jantung. Menggunakan alat keteter tersebut, dokter kemudian akan dapat melakukan pemeriksaan diagnostic sebagai bagian dari kateterisasi jantung. Beberapa perawatan penyakit jantung, seperti angiplasti koroner dan stenting koroner, juga dilakukan menggunakan kateterisasi jantung. Biasanya, Anda akan sadar saat proses kateterisasi jantung berlangsung. Namun, dokter akan memberikan obat-obatan tertentu untuk membantu Anda merasa lebih relaks dan nyaman. Waktu pemulihan setelah prosedur kateterisasi jantung dilakukan relatif cepat. Selain itu, risiko terjadinya komplikasi setelah prosedur berlangsung sangatlah kecil. Artikel ini akan membahas seluk beluk mengenai kateterisasi jantung dengan lebih jelas.

Mengapa kateterisasi jantung perlu dilakukan?

Kateterisasi jantung dilakukan untuk memeriksa apakah seseorang memiliki gangguan kesehatan jantung. Selain itu, tindakan medis ini juga dapat dilakukan sebagai bagian dari prosedur perawatan penyakit jantung yang telah diketahui. Apabila Anda akan mendapatkan kateterisasi jantung sebagai bentuk pemeriksaan penyakit jantung, dokter dapat melakukan hal-hal berikut ini seperti:

  • Menemukan penyempitan atau penyumbatan di pembuluh darah yang dapat menyebabkan rasa sakit pada dada (angiogram)
  • Mengukur tekanan dan kadar oksigen di beberapa bagian jantung (hemodynamic assessment)
  • Memeriksa fungsi pemompaan jantung (ventriculogram kanan atau kiri)
  • Mengambil sampel atau contoh jaringan yang ada di jantung (biopsy)
  • Melakukan diagnosa cacat jantung yang muncul saat lahir (cacat jantung bawaan)
  • Mencari masalah yang ada pada katup jantung

Kateterisasi jantung juga digunakan sebagai salah satu bentuk prosedur untuk merawat penyakit jantung. Prrosedur yang dimaksud adalah:

  • Memperlebar arteri yang sempit (angioplasty) dengan atau tanpa penempatan stent
  • Menutup lubang yang ada pada jantung atau memperbaiki cacat jantung bawaan apapun
  • Membuka katup jantung yang menyempit (balloon valbuplasty)
  • Merawat irama jantung yang tidak teratur menggunakan ablasi
  • Menutup sebagian jantung untuk mencegah penggumpalan darah

Manfaat dan risiko prosedur kateterisasi jantung

Kateterisasi jantung dapat membantu dokter untuk mendiagnosa dan melakukan perawatan pada masalah jantung tertentu yang dapat menyebabkan gangguan lebih parah seperti stroke atau serangan jantung. Ada kemungkinan Anda terhindar dari serangan jantung atau menghentikan serangan jantung di kemudian hari apabila dokter mampu memperbaiki masalah kesehatan jantung yang ditemukan saat prosedur kateterisasi jantung dilakukan.

Namun, perlu diketahui bahwa prosedur apapun yang berhubungan dengan kondisi jantung seseorang memiliki risiko tertentu yang harus diwaspadai. Kateterisasi jantung dianggap memiliki risiko yang relatif rendah, dan sangat jarang ditemukan kasus di mana orang-orang memiliki efek samping akibat prosedur ini. Namun, risiko komplikasi, meskipun sangat langka dan jarang terjadi, akan lebih tinggi terutama apabila Anda menderita penyakit diabetes dan ginjal, atau Anda telah berumur lebih dari 75 tahun.

Beberapa risiko yang sering dihubungkan dengan kateterisasi jantung seperti reaksi alergi terhadap bahan atau obat-obatan yang digunakan selama prosedur; pendarahan, infeksi, dan lebam pada daerah di mana kateter dimasukkan; penggumpalan darah, yang mana dapat memicu serangan jantung, stroke, dan gangguan kesehatan serius lain; kerusakan pada daerah arteri di mana kateter dimasukkan; irama jantung yang tidak teratur (arrhythmia); kerusakan ginjal yang disebabkan oleh bahan kontras; tekanan darah rendah; dan juga jaringan jantung yang sobek.

Read More

Induksi Persalinan, Amankah untuk Ibu dan Bayi?

Idealnya, persalinan terjadi di sekitar tanggal perkiraan kelahiran. Namun pada kondisi-kondisi tertentu, proses persalinan kadang perlu dipercepat. Pada kasus lain, usia kehamilan sudah melewati tanggal perkiraan kelahiran, akan tetapi tidak ada tanda-tanda persalinan. Hal-hal tersebut biasanya membuat dokter menyarankan untuk dilakukan induksi persalinan.

Secara sederhana, induksi persalinan merupakan tindakan medis untuk merangsang proses persalinan secara normal. Tentu saja, ada banyak kondisi yang melatarbelakangi dilakukannya induksi persalinan.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, kehamilan sudah memasuki waktu kelahiran tetapi tidak kunjung ada tanda-tanda persalinan. Kondisi ini termasuk salah satu keadaan yang memicu dilakukannya induksi persalinan.

Kondisi lainnya, ketuban sudah pecah tetapi tidak kunjung terjadi kontraksi. Atau ada komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia, diabetes, jumlah ketuban sedikit, gangguan pada plasenta, atau terjadi infeksi.

Karena terkait dengan proses persalinan, fokus setiap ibu pasti sama: apakah induksi persalinan aman bagi ibu dan bayi?

Risiko dari induksi persalinan

Seperti semua tindakan medis, induksi persalinan juga memiliki risiko. Beberapa hal di bawah ini merupakan risiko yang mungkin timbul akibat induksi persalinan.

1. Gangguan irama jantung pada janin

Obat yang digunakan dalam proses induksi persalinan, memang ditujukan untuk memicu kontraksi. Sayangnya, kontraksi yang terjadi dapat menjadi terlalu kuat dan terlalu sering. Akibatnya, pasokan oksigen ke janin menjadi tidak lancar dan memicu terjadinya gangguan irama jantung pada janin.

2. Lilitan tali pusat

Kontraksi yang terlalu kencang dan kuat, akibat pemberian obat induksi, juga dapat menimbulkan lilitan tali pusat pada janin. Saat berada di dalam kandungan, janin terlilit tali pusat tidak terlalu menjadi persoalan. Namun bila kondisi tersebut terjadi saat proses persalinan, dapat membahayakan keselamatan janin.

3. Ruptur

Ruptur atau rahim robek akibat kontraksi yang terlalu kencang, sebetulnya merupakan kondisi yang jarang terjadi. Akan tetapi, ini menjadi risiko pemberian induksi persalinan.

Apa yang berbahaya dari kondisi ini? Keluarnya bayi dari dinding rahim dan masuk ke rongga perut, sebab ada robekan pada rahim. Jika hal ini terjadi kemungkinan diperlukan tindakan operasi.

4. Infeksi pada janin atau ibu

Tidak semua, namun beberapa prosedur induksi persalinan dapat meningkatkan terjadinya infeksi. Baik pada janin maupun ibu.

5. Perdarahan pasca melahirkan

Pemberian induksi persalinan dapat meningkatkan kemungkinan otot rahim tidak dapat berkontraksi setelah melahirkan. Akibatnya, dapat terjadi perdarahan pasca persalinan.

Akan tetapi, Anda tidak perlu terlalu khawatir, sebab dokter pasti sudah mempertimbangkan keamanan juga perbandingan manfaat dan risiko dari induksi persalinan yang diberikan. Lagi pula, induksi persalinan tidak dilakukan sembarangan. Tidak semua ibu hamil akan diberikan induksi persalinan. Terdapat perhitungan khusus terkait kelayakan dilakukannya induksi persalinan yang disebut skor Bishop.

Lebih jauh mengenai skor Bishop

Skor Bishop akan menunjukkan peluang keberhasilan dari induksi persalinan yang dilakukan. Semakin tinggi angka atau skor yang diperoleh, menandakan persalinan akan segera terjadi. Dan rangsangan yang diberikan melalui induksi, akan berhasil.

Nah, terdapat beberapa parameter yang dinilai dalam skor Bishop. Pertama, seberapa besar pembukaan atau penipisan serviks.

Selanjutnya, letak kepala bayi juga dinilai. Semakin mendekati kelahiran, kepala bayi akan semakin turun ke jalan lahir. Sejauh mana kepala bayi turun di jalan lahir, termasuk salah satu parameter yang dinilai.

Posisi bagian bawah janin serta konsistensi serviks juga turut dinilai. Selama kehamilan, konsistensi serviks menjadi keras. Maka, menjelang persalinan dinilai konsistensi serviks tersebut apakah masih keras atau sudah lembek.

Telah disebutkan sebelumnya, skor yang tinggi menunjukkan peluang keberhasilan induksi persalinan. Bila skor Bishop kecil, kemungkinan keberhasilan melahirkan secara normal juga kecil. Pada kondisi demikian, Anda dapat berdiskusi dengan dokter untuk menempuh cara persalinan yang lain.

Read More