Anak Mengidap OCD? Ini yang Harus Anda Lakukan Sebagai Orang Tua!

Sebagai orang tua, menghadapi anak dengan kondisi khusus memang kadang memberatkan. Jika anak Anda mengalami kondisi OCD (obsessive-compulsive disorder), seluruh keluarga bisa terkena dampaknya. Ada beberapa hal yang harus Anda ketahui untuk memahami lebih jauh mengenai OCD dan mencari strategi terbaik untuk mendukung anak Anda yang mengalami kondisi ini.

Apa Itu Obsessive-Compulsive Disorder?

Obsessive-compulsive disorder merupakan keadaan di mana penderita sulit dikontrol, memiliki obsesi berlebihan terhadap sesuatu sehingga membuatnya merasa perlu melakukannya berkali-kali. Misalnya saja, anak akan terus-terusan mencuci tangan atau memeriksa pintu kamarnya karena ia merasa belum melakukannya dengan sempurna.

Seorang anak bisa bersikap impulsif atau melakukan ritual yang sama berkali-kali untuk menghilangkan stres atau kesedihan tertentu. Bisa juga ia melakukan sesuatu terus menerus karena berpikir itu bisa mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Meskipun secara logis anak tahu apa yang ia lakukan tidak ada kaitannya sama sekali, mereka tetap merasa perlu melakukannya.

Bagaimana OCD Bisa Berdampak pada Keluarga?

Kondisi ini tidak hanya akan berdampak pada anak tapi juga kepada seluruh keluarga. Tak jarang bisa menimbulkan masalah yang sama terus menerus. Misalnya saja anak Anda punya kebiasaan memeriksa seluruh kamarnya berulang-ulang sebelum berangkat ke sekolah. Ini bisa membuat Anda yang hendak mengantarnya jadi ikut terlambat ke kantor juga.

Kelainan ini juga bisa memaksa anggota keluarga untuk tidak menyentuh objek tertentu yang tidak disukai anak yang pada akhirnya membuat anggota keluarga lain merasa tidak nyaman di rumah sendiri. Kondisi ini pada akhirnya akan mengganggu seluruh keluarga dan Anda sebagai orang tua akan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan dukungan yang memadai untuk anak dengan kondisi khusus ini.

Bagaimana Anda Membantu Anak dengan OCD?

Ketika Anda mendapati anak memiliki gejala-gejala Obsessive-compulsive disorder, cara terbaik yang bisa dilakukan tentu saja meminta bantuan tenaga ahli. Namun untuk penanganan jangka panjang, peran orang tua sama sekali tidak bisa dipinggirkan. Simak beberapa tips yang bisa membantu Anda berikut ini!

  • Melakukan Terapi Perilaku Kognitif. Terapi ini terbukti membantu anak untuk mengurangi sikap impulsif secara bertahap. Ketika Anda merasa gejala yang muncul sudah mulai mengganggu aktivitas keluarga, carilah referensi dokter atau melalui program dari yayasan OCD Internasional.
  • Jangan Membantu Anak. Naluri melindungi nyatanya tidak diperlukan untuk penanganan kelainan ini. Misalnya, ketika anak meminta bantuan Anda untuk membukakan pintu karena ia takut kuman dan Anda menurutinya, ini secara tidak langsung akan memperparah kondisinya. Cobalah untuk tidak berpartisipasi atau membantu anak dengan ritual OCD-nya. Dengan begini, Anda membiasakan anak kea rah yang lebih baik karena begitu mereka mengerti usahanya sia-sia, mereka tidak mengulanginya lagi.
  • Pahami Kondisi Anak dengan Baik. Jika Anda berpikir prilaku anak OCD adalah bentuk perlawanan terhadap Anda sebagai orang tua, Anda mungkin akan merasa marah. Cobalah berpikir dari perspektif anak dan pahami kondisinya. Ingat, Anda tidak suka dengan OCD-nya, bukan dengan anaknya. Fokuskan pada gejala OCD alih-alih membenci anak Anda yang tidak bersalah.

Menghadapi anak OCD memang bukan hal yang mudah. Selain mengikuti tips di atas, Anda juga perlu sesekali meminta bantuan orang terdekat maupun pakar.

Tags: ,

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*